Bagi Anda yang kebetulan sedang singgah atau berlibur ke Yogyakarta, sempatkanlah sejenak untuk mencicipi ragam kelezatan kuliner yang ada di kawasan Jl. Prof. Yohanes Sagan, Yogyakarta. Di kawasan ini, Anda akan dibuat takjub dengan kemeriahan para penjaja kuliner yang cukup beraneka, dari mulai sajian berkuah hingga menu khas nusantara bercita rasa pedas yang nampol abiss.
Bagi Anda pencinta masakan pedas, rasanya Anda patut bersyukur. Karena sentra kuliner Sagan siap memanjakan Anda dengan ragam olahan bercita rasa pedas. Dan tempat makan menu pedas pertama yang perlu Anda sambangi adalah Resto Rawit Merah. Dari namanya saja, sudah tersirat jika rumah makan ini sangat cocok bagi mereka yang menyukai masakan pedas.
Meski tergolong baru di kawasan kuliner Sagan, namun kehadiran Resto Rawit Merah cukup mendapat ruang khusus di hati para pelanggan. Pasalnya selain tempatnya yang nyaman, menu yang ditawarkan juga sangat beragam dan yang pasti harganya sangat bersahabat, jadi Anda tak perlu khawatir kantong jebol. Resto yang mulai beroperasi mulai pukul 9 pagi hingga 11 malam ini berada sekitar 150 meter dari titik perempatan Galleria Mall dan berada di sebelah kiri jalan atau tepatnya di samping Rumah Makan Blora.
Seperti namanya, berbagai menu yang tersedia tidak terlepas dari cita rasa khas sambal rawit merahnya. Ada Ayam Kampung Goreng, Bebek Goreng, Ikan Bakar/Goreng, Lele, Cumi, Belut dan Aneka Ragam Pepesan. Namun yang cukup menarik lidah adalah Udang Windu Goreng-nya. Kalau dilihat dari tampilan memang seperti Udang Goreng pada umumnya, namun saat menyatu di lidah, Hummmm… gurihnya begitu pekat hingga ke sela-sela daging, selain itu tekstur dagingnya juga begitu kenyal dan empuk.
Menurut Siska, salah satu pelayan Resto Rawit Merah, rasa gurih Udang Goreng didapat dari lumuran air jeruk lemon dan bumbu halus yang ditambahkan sebelum udang digoreng, kemudian didiamkan selama 3-4 jam sampai bumbu meresap.
Seporsi Udang Windu Goreng makin teras komplit karena disajikan bersama lalapan segar berupa irisan timun dan kol serta Sambal Terasi Rawit Merahsebagai cocolan. Satu porsi Udang Windu Goreng yang disandingkan bersama sepiring nasi putih panas ini dijual Rp 17 ribu, sudah termasuk Lemon Hangatdan Sayuran Asem. Murmerkan?
Bila kebetulan Anda sampai ke sentra kuliner Sagan pada sore hari menjelang malam, rasanya sajian berkuah cocok mengisi relung perut yang keroncongan.Ada satu menu yang akan membuat Anda lebih segar dan bergairah. Apakah gerangan? Yaa.. Tengkleng Kambing khas Solo, untuk menikmati sajian berkuah ini, Anda bisa bertandang ke Kedai Tengkleng Khas Solo yang berada persis di seberang Warung Makan Dua Putri.
Tengkleng Kambing merupakan salah satu sajian berkuah yang hampir mirip dengan Gulai, namun dengan kuah yang tidak terlalu kental. Tidak hanya itu saja, bahan utama berupa potongan daging kambing bagian kepala dan juga tulang-tulangan ini memberi kenikmatan tersendiri sewaktu menyantapnya.
Dengan warna kuah yang kekuningan, Sruuuuup…benar-benar mantap menggoda. Lembutnya daging kambing sangat pas dengan kuah yang terasa segar dan berbumbu. Masih penasaran dengan ragam kuliner yang ada di Sagan? Baca liputan lengkapnya hanya di Tabloid Info Kuliner Edisi 07 Tahun VII yang terbit 27 Desember 2013. Usbat
Related Pots
Dulu, Semarang dikenal sebagai kota pelabuhan dan perdagangan. Tak heran terjadi banyak pertukaran budaya, termasuk dari segi kuliner. Berbagai tempat wisata kuliner Jawa Tengah pun dengan mudah ditemui di kota berjuluk Kota Lumpia ini. Baik itu kuliner khas lokal, maupun perpaduan antara budaya China dan asing.
Sebagai kota besar dengan sejuta pesona keindahan alam dan wisata sejarahnya, tentunya Semarang juga banyak menyimpan khasanah kuliner khas yang patut untuk dijajal, dari menu ala perpaduan budaya Jawa dan China, hingga kreasi menu yang diwariskan secara turun-temurun.
Sebagai kota terbesar di Provinsi Jawa Tengah, bisa dipastikan nuansa kesibukan masyarakat sudah terasa sejak pagi hari. Sebelum mengawali aktivitas, rutinitas sarapan menjadi hal yang tidak boleh terlewatkan bagi kebanyakan masyarakat Semarang. Aneka menu hidangan untuk membuka hari juga selalu hadir di beberapa sudut kota, salah satunya adalah kawasan Simpang Lima. Ada banyak penjaja menu pagi yang berderet di sepanjang trotoar kawasan ini, mulai dari Bubur Kacang Hijau, Jajanan Pasar, Pecel Koyor, Nasi Rames, Bubur Ayam, Ayam Goreng Kampung, dan Mie Jakarta. Dan yang wajib Anda coba di sini adalah Pecel Koyor racikan Pecel Koyor Yu Sri yang letaknya di sentra kuliner Simpang Lima bagian barat, atau di samping Masjid Baiturrahman.
Pecel Koyor memang menjadi salah satu hidangan yang cukup familier di lidah warga Kota Semarang. Pecel Koyor merupakan pecel sayuran yang disiram bumbu kacang dan ditambahkan olahan koyor atau urat daging sapi sebagai pelengkap. Selain rasanya yang legit dan gurih, campuran koyor-nya juga dapat menambah gairah makan.
Menjelajahi kota dengan eksotika pemandangan bangunan tua yang masih tertata apik, membuat perut menjadi lapar. Jangan khawatir, di kota ini ada banyak pilihan menu makan siang yang siap memanjakan lidah Anda. Salah satu yang patut Anda sambangi adalah Soto Mas Ari, yang terletak di Jl. GOR Jati Diri, Jatingaleh-Semarang, atau sekitar 100 meter dari pertigaan PLN Jatingaleh.
Kedai soto yang sudah berdiri sejak 3 tahun yang lalu ini menawarkan sensasi rasa soto yang khas dari Kota Semarang. Berbeda dari Soto Lamongan atauSoto Kudus yang memiliki kuah bening, Soto Ayam Mas Ari ini tampak sedikit keruh. Untuk mendapatkan kuah soto yang sedikit keruh ini, mas Ari sebagai juru ramu sekaligus pemilik kedai, sengaja melengkapi Kuah kaldu ayam kampung dengan berbagai macam perpaduan rempah-rempah khas “wong ndeso” seperti jahe, lengkuas, kayu manis, bawang merah, kemiri dan merica.
Semakin malam, Kota Semarang semakin menunjukkan pesona keindahannya, Gemerlap kota dengan pijar lampu yang memancar menambah elok dari kota atlas tersebut. Untuk mengisi malam santai Anda di Semarang, ada baiknya Anda datang di kawasan Jl. Gajah Mada, di kawasan ini ada beragam pilihan kuliner yang siap untuk menyambut perut Anda. Salah satu menu kuliner yang cukup terkenal di kawasan ini adalah Tahu Pong, dan cukup disayangkan jika Anda melewatkan menu satu ini. Kedai Sari Roso adalah satu di antara beberapa penjaja tahu pong yang ada di sini. space warung yang cukup luas, membuat kedai ini bisa menampung 15 hingga 20 orang pengunjung.
Warung yang berdiri sejak 10 tahun yang lalu ini selalu ramai didatangi pengunjung. Karena selain cita rasa yang gurih, kreasi Tahu Pong yang ditawarkannya juga sangat beragam. Sehingga tak heran jika pelanggannya tidak datang dari Semarang saja, melainkan juga datang dari luar kota. Menurut Rinto, pemilik warung, Tahu Pong mulai dikenal di Semarang pada tahun 1930-an. Kata “pong” pada makanan ini memiliki dua arti, dalam bahasa Jawa pong disebut kopong atau kosong, sedangkan dalam bahasa Mandarin, pong sendiri bermakna menggelembung. Tahu Pong juga hasil dari kuliner peranakan antara dua budaya yaitu budaya China dan budaya Indonesia.
Ingin tahu lebih jauh tentang kekayaan khazanah kuliner Semarang? Di mana saja tempat-tempat makan yang enak? Baca liputan lengkapnya hanya di TabloidInfo Kuliner Edisi 06 Tahun VII yang terbit 13 Desember 2013. Usbat.
Sebagai kota besar dengan sejuta pesona keindahan alam dan wisata sejarahnya, tentunya Semarang juga banyak menyimpan khasanah kuliner khas yang patut untuk dijajal, dari menu ala perpaduan budaya Jawa dan China, hingga kreasi menu yang diwariskan secara turun-temurun.
Sebagai kota terbesar di Provinsi Jawa Tengah, bisa dipastikan nuansa kesibukan masyarakat sudah terasa sejak pagi hari. Sebelum mengawali aktivitas, rutinitas sarapan menjadi hal yang tidak boleh terlewatkan bagi kebanyakan masyarakat Semarang. Aneka menu hidangan untuk membuka hari juga selalu hadir di beberapa sudut kota, salah satunya adalah kawasan Simpang Lima. Ada banyak penjaja menu pagi yang berderet di sepanjang trotoar kawasan ini, mulai dari Bubur Kacang Hijau, Jajanan Pasar, Pecel Koyor, Nasi Rames, Bubur Ayam, Ayam Goreng Kampung, dan Mie Jakarta. Dan yang wajib Anda coba di sini adalah Pecel Koyor racikan Pecel Koyor Yu Sri yang letaknya di sentra kuliner Simpang Lima bagian barat, atau di samping Masjid Baiturrahman.
Pecel Koyor memang menjadi salah satu hidangan yang cukup familier di lidah warga Kota Semarang. Pecel Koyor merupakan pecel sayuran yang disiram bumbu kacang dan ditambahkan olahan koyor atau urat daging sapi sebagai pelengkap. Selain rasanya yang legit dan gurih, campuran koyor-nya juga dapat menambah gairah makan.
Menjelajahi kota dengan eksotika pemandangan bangunan tua yang masih tertata apik, membuat perut menjadi lapar. Jangan khawatir, di kota ini ada banyak pilihan menu makan siang yang siap memanjakan lidah Anda. Salah satu yang patut Anda sambangi adalah Soto Mas Ari, yang terletak di Jl. GOR Jati Diri, Jatingaleh-Semarang, atau sekitar 100 meter dari pertigaan PLN Jatingaleh.
Kedai soto yang sudah berdiri sejak 3 tahun yang lalu ini menawarkan sensasi rasa soto yang khas dari Kota Semarang. Berbeda dari Soto Lamongan atauSoto Kudus yang memiliki kuah bening, Soto Ayam Mas Ari ini tampak sedikit keruh. Untuk mendapatkan kuah soto yang sedikit keruh ini, mas Ari sebagai juru ramu sekaligus pemilik kedai, sengaja melengkapi Kuah kaldu ayam kampung dengan berbagai macam perpaduan rempah-rempah khas “wong ndeso” seperti jahe, lengkuas, kayu manis, bawang merah, kemiri dan merica.
Semakin malam, Kota Semarang semakin menunjukkan pesona keindahannya, Gemerlap kota dengan pijar lampu yang memancar menambah elok dari kota atlas tersebut. Untuk mengisi malam santai Anda di Semarang, ada baiknya Anda datang di kawasan Jl. Gajah Mada, di kawasan ini ada beragam pilihan kuliner yang siap untuk menyambut perut Anda. Salah satu menu kuliner yang cukup terkenal di kawasan ini adalah Tahu Pong, dan cukup disayangkan jika Anda melewatkan menu satu ini. Kedai Sari Roso adalah satu di antara beberapa penjaja tahu pong yang ada di sini. space warung yang cukup luas, membuat kedai ini bisa menampung 15 hingga 20 orang pengunjung.
Warung yang berdiri sejak 10 tahun yang lalu ini selalu ramai didatangi pengunjung. Karena selain cita rasa yang gurih, kreasi Tahu Pong yang ditawarkannya juga sangat beragam. Sehingga tak heran jika pelanggannya tidak datang dari Semarang saja, melainkan juga datang dari luar kota. Menurut Rinto, pemilik warung, Tahu Pong mulai dikenal di Semarang pada tahun 1930-an. Kata “pong” pada makanan ini memiliki dua arti, dalam bahasa Jawa pong disebut kopong atau kosong, sedangkan dalam bahasa Mandarin, pong sendiri bermakna menggelembung. Tahu Pong juga hasil dari kuliner peranakan antara dua budaya yaitu budaya China dan budaya Indonesia.
Ingin tahu lebih jauh tentang kekayaan khazanah kuliner Semarang? Di mana saja tempat-tempat makan yang enak? Baca liputan lengkapnya hanya di TabloidInfo Kuliner Edisi 06 Tahun VII yang terbit 13 Desember 2013. Usbat.
Related Pots
Selain dikenal sebagai bagian dari perlintasan jalan Daendels-Pulau Jawa, Kabupaten Kendal juga menyimpan sejuta kuliner yang patut dicoba. Penduduknya yang ramah serta penataan kota yang sangat apik, membuat sebagian besar para pengguna jalan rela menyisihkan waktu untuk singgah di kabupaten yang terkenal dengan julukan Kota Santri ini. Seperti apa asyiknya kuliner khas Kendal?
Pagi yang indah, pagi yang ceria dan pagi yang bersemangat bersama dengan sajian ringan Gemblong Santan khas kawasan Pantura. Penganan satu ini memang menjadi hidangan tradisional di pagi hari yang masih terjaga hingga kini. Rasanya yang khas membuat sebagian besar warga Kendal memilihGemblong Santan sebagai menu wajib di pagi hari. Salah satu pedagang Gemblong Santan yang dapat Anda jumpai di pasar tersebut adalah Gemblong Santan Bu Sripah. Kedai tersebut berada sekitar 70 meter dari arah barat pintu masuk Pasar Gladak.
Sajian ringan Gemblong Santan dibuat dari tepung beras ketan yang sudah dicampur garam dan kapur sirih, lalu diaduk rata sambil ditambahkan air sedikit demi sedikit hingga berbentuk adonan. Setelah itu adonan didiamkan selama 15 menit, agar air meresap. Selanjutnya adonan dikukus hingga matang, lalu diiris tipis dan disajikan bersama Ketan Putih Kukus dan Klepon. Sebagai pemanis, saus gula jawa dituangkan di atasnya. Paduan menu satu ini kian klopdengan taburan kelapa parut dan siraman santan kental.
Menjelang siang, Jl. Raya Kaliwungu-Kendal tampak begitu padat. Karena, selain menjadi perlintasan bus antarkota dari arah Semarang menuju Pekalongan-Tegal atau sebaliknya, kawasan ini juga menjadi tujuan para pegawai yang ingin bersantap siang. Salah satu tempat makan yang ramai dan banyak dituju adalah Warung Makan Farchat. Warung yang hanya bisa menampung sekitar 20 pelanggan ini menyediakan aneka masakan khas Kabupaten Kendal, satu di antaranya yang paling dicari adalah Momoh. Menu satu ini bahkan hanya ada di Kaliwungu, Kabupaten Kendal.
Menurut Farchat, sang pemilik warung, Momoh dibuat dari jeroan sapi. Untuk membuatnya memerlukan waktu yang cukup lama, karena harus mengalami tiga tahap proses pematangan. Pertama jeroan sapi yang telah dicuci bersih, direbus selama empat jam atau kira-kira sampai jeroan lunak. Setelah itu, jeroan sapi dipotong-potong sebesar tiga ruas jari tangan dan diaduk rata bersama bumbu halus berupa gula jawa, asem, garam, bawang merah, bawang putih, dan merica, serta daun jeruk dan daun salam. Setelah itu, jeroan sapi berbumbu diungkep di dalam kuali tanah liat selama 2-3 jam. Terakhir, barulah Momohdigoreng dalam minyak banyak dan panas hingga kecokelatan. Saat disajikan, Momoh disiram kuah sisa ungkepan.
Saat malam menjelang, suasana di jalanan Kabupaten dan pusat Kota Kendal semakin semarak. Hal ini dapat terlihat dari beberapa warung tenda semi permanen yang mulai memancarkan sinar lampunya. Beberapa pos tempat santai dan berkumpulnya anak-anak muda juga sudah mulai tampak ramai. Salah satunya ada di Jl. Kaliwungu yang membentang hingga 4 km. Di kawasan ini ragam kuliner malam siap memanjakan lidah, mulai dari Bakso, Mie Ayam, Sate Kambing, Sop hingga makanan cepat saji. Tapi yang cukup banyak ditemui adalah Tengkleng Sapi.
Warung Tengkleng Sapi yang cukup terkenal di kawasan ini adalah Warung Tengkleng Sapi Pujasera. Warung yang berada persis di pembuka Jl. Kaliwungu ini beroperasi tiap hari dari pukul 11 siang sampai 11 malam. Tengkleng Sapi merupakan sejenis Gulai Sapi dengan warna kuah kekuningan. Setelah dicicip, sensasi rasanya begitu menggoda. Lembutnya daging sapi terasa pas dengan kuah tengkleng yang terasa segar. Karena direbus bersama bumbu halus berupa bawang merah Brebes, bawang putih, kemiri, kunyit, dan ketumbar. Kesegarannya tak lepas dari tambahan daun salam, lengkuas, serai, dan daun jeruk. Satu porsi Tengkleng Sapi ditawarkan dengan harga Rp 18 ribu.
Ingin tahu lebih banyak tentang aneka kuliner di Kabupaten Kendal? Baca liputan lengkapnya hanya di Tabloid Info Kuliner Edisi 02 Tahun VII yang terbit 18 Oktober 2013. Usbat
Pagi yang indah, pagi yang ceria dan pagi yang bersemangat bersama dengan sajian ringan Gemblong Santan khas kawasan Pantura. Penganan satu ini memang menjadi hidangan tradisional di pagi hari yang masih terjaga hingga kini. Rasanya yang khas membuat sebagian besar warga Kendal memilihGemblong Santan sebagai menu wajib di pagi hari. Salah satu pedagang Gemblong Santan yang dapat Anda jumpai di pasar tersebut adalah Gemblong Santan Bu Sripah. Kedai tersebut berada sekitar 70 meter dari arah barat pintu masuk Pasar Gladak.
Sajian ringan Gemblong Santan dibuat dari tepung beras ketan yang sudah dicampur garam dan kapur sirih, lalu diaduk rata sambil ditambahkan air sedikit demi sedikit hingga berbentuk adonan. Setelah itu adonan didiamkan selama 15 menit, agar air meresap. Selanjutnya adonan dikukus hingga matang, lalu diiris tipis dan disajikan bersama Ketan Putih Kukus dan Klepon. Sebagai pemanis, saus gula jawa dituangkan di atasnya. Paduan menu satu ini kian klopdengan taburan kelapa parut dan siraman santan kental.
Menjelang siang, Jl. Raya Kaliwungu-Kendal tampak begitu padat. Karena, selain menjadi perlintasan bus antarkota dari arah Semarang menuju Pekalongan-Tegal atau sebaliknya, kawasan ini juga menjadi tujuan para pegawai yang ingin bersantap siang. Salah satu tempat makan yang ramai dan banyak dituju adalah Warung Makan Farchat. Warung yang hanya bisa menampung sekitar 20 pelanggan ini menyediakan aneka masakan khas Kabupaten Kendal, satu di antaranya yang paling dicari adalah Momoh. Menu satu ini bahkan hanya ada di Kaliwungu, Kabupaten Kendal.
Menurut Farchat, sang pemilik warung, Momoh dibuat dari jeroan sapi. Untuk membuatnya memerlukan waktu yang cukup lama, karena harus mengalami tiga tahap proses pematangan. Pertama jeroan sapi yang telah dicuci bersih, direbus selama empat jam atau kira-kira sampai jeroan lunak. Setelah itu, jeroan sapi dipotong-potong sebesar tiga ruas jari tangan dan diaduk rata bersama bumbu halus berupa gula jawa, asem, garam, bawang merah, bawang putih, dan merica, serta daun jeruk dan daun salam. Setelah itu, jeroan sapi berbumbu diungkep di dalam kuali tanah liat selama 2-3 jam. Terakhir, barulah Momohdigoreng dalam minyak banyak dan panas hingga kecokelatan. Saat disajikan, Momoh disiram kuah sisa ungkepan.
Saat malam menjelang, suasana di jalanan Kabupaten dan pusat Kota Kendal semakin semarak. Hal ini dapat terlihat dari beberapa warung tenda semi permanen yang mulai memancarkan sinar lampunya. Beberapa pos tempat santai dan berkumpulnya anak-anak muda juga sudah mulai tampak ramai. Salah satunya ada di Jl. Kaliwungu yang membentang hingga 4 km. Di kawasan ini ragam kuliner malam siap memanjakan lidah, mulai dari Bakso, Mie Ayam, Sate Kambing, Sop hingga makanan cepat saji. Tapi yang cukup banyak ditemui adalah Tengkleng Sapi.
Warung Tengkleng Sapi yang cukup terkenal di kawasan ini adalah Warung Tengkleng Sapi Pujasera. Warung yang berada persis di pembuka Jl. Kaliwungu ini beroperasi tiap hari dari pukul 11 siang sampai 11 malam. Tengkleng Sapi merupakan sejenis Gulai Sapi dengan warna kuah kekuningan. Setelah dicicip, sensasi rasanya begitu menggoda. Lembutnya daging sapi terasa pas dengan kuah tengkleng yang terasa segar. Karena direbus bersama bumbu halus berupa bawang merah Brebes, bawang putih, kemiri, kunyit, dan ketumbar. Kesegarannya tak lepas dari tambahan daun salam, lengkuas, serai, dan daun jeruk. Satu porsi Tengkleng Sapi ditawarkan dengan harga Rp 18 ribu.
Ingin tahu lebih banyak tentang aneka kuliner di Kabupaten Kendal? Baca liputan lengkapnya hanya di Tabloid Info Kuliner Edisi 02 Tahun VII yang terbit 18 Oktober 2013. Usbat
Related Pots
Tas Truko, Kerajinan Bola, dan Bandeng Tandu Berkembang Pesat
Related Pots
Bermula dari bisnis rumah tangga yang memasok beragam keripik renyah ke warung-warung kecil, kini Miftahuddin dan Dewi telah memiliki enam gerai oleh-oleh di Kota Bogor, Jawa Barat. Usut punya usut ternyata penggunaan Minyak Goreng Fraiswell jadi salah satu pemicu kesuksesan pasangan suami istri ini dalam menaklukkan pasar.
Kala melongok gerai oleh-oleh berlabel Priangan Sari di Jl. Raya Puncak Km 72 No. 53-54, Bogor – Jawa Barat, yang cukup besar dan komplit, siapa yang menyangka jika bisnis ini mulanya hanya sebatas usaha rumah tangga. Diceritakan oleh Dewi dan Miftahuddin, selaku pemiliki gerai Priangan Sari, bisnis ini dimulai pada tahun 1992 di Kota Bandung – Jawa Barat. Ketika itu, Dewi yang baru saja melahirkan putri pertama mereka, memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai sekretaris. Karena tak terbiasa nganggur, Dewi pun mencoba menyalurkan hobinya membuat Keripik Singkong Balado. Untuk membantu perekonomian keluarga, Keriping Singkong Balado tersebut kemudian dipasarkan ke beberapa warung sekitar tempat tinggal Dewi dan Miftah.
Tak disangka, kerenyahan Keripik Singkong Balado racikan Dewi mendapat respon positif dari konsumen. Bahkan beberapa bulan kemudian Dewi dan Miftah harus memindahkan lokasi produksi guna mencari tempat yang lebih luas. Disamping itu, pasangan suami istri ini juga mulai menambah varian menu baru seperti Keripik Tempe dan Keripik Bayam. Terhitung sejak tahun 1992 hingga 1997, usaha aneka keripik milik Dewi dan Miftah telah berkembang dengan lima ruko berlabel Priangan Sari, yang tersebar di beberapa kawasan oleh-oleh Bandung – Jawa Barat.
Ekspansi Usaha.
Di tahun 1997, Dewi dan Miftah memutuskan untuk hijrah ke Ciawi, Bogor – Jawa Barat. Keputusan ini diambil karena melihat prospek yang lebih cemerlang. Di sini, Dewi dan Miftah membuka gerai mini market yang juga menjual beragam kebutuhan Sembilan bahan pokok (sembako). “Awalnya, ruko-ruko di Bandung masih kami kelola sendiri, tapi karena tidak terkontrol lagi maka saat ini di-handle oleh saudara-saudara kami, mulai dari produksi hingga pemasaran,” ujar Miftah.
Sayang, bisnis tersebut tak bertahan lama dan harus gulung tikar karena beberapa persoalan. Tak ingin larut dalam kegagalan, Dewi dan Miftah memidahkan lokasi penjualan ke kawasan, Jl. Raya Puncak Gadog Km 7. Dengan mengusung konsep sentra oleh-oleh, Dewi dan Miftah bukan hanya membuat beragam keripik untuk dijual kepada konsumen, tapi juga menerima pasokan oleh-oleh khas berbagai daerah di Indonesia. Saat ini Priangan Sari sudah memiliki lima cabang yang berada di Jl. Raya Ibogo Menteng No.52, Jl. Raya Kopo Puncak (Samping Wisma DPR), Jl. Raya Sukabumi No 26, Jl. Raya Soleh Iskandar (Depan Toserba Yogya), Ruko Plaza Niaga 2 No. 65 dan Sentul City No.85, Bogor- Jawa Barat.
Mitra UKM.
Hingga saat ini, Priangan Sari menyediakan ragam menu oleh-oleh yang bisa dipilih oleh para wisatawan yang melancong ke kawasan Puncak – Bogor, Jawa Barat. Sebut saja Keripik Tempe, Kripik Bayam, Kripik Bawang, Sale Pisang, Bolu Lapis Talas Bogor, Brownies Talas, Roll Talas, Sale Pisang Keju, Dodol Garut, Roti Unyil, Wajik Ci Lilin, Manisan Cianjur hingga aneka buah lokal.
Selain menyediakan menu yang dibuat sendiri di dapur produksi, Priang Sari juga menerima pasokan Usaha Kecil Menengah (UKM) dari berbagai daerah. Dengan kerja sama ini, Dewi dan Miftah berharap bisa menyediakan media penjualan bagi UKM yang terkendala modal dan pemasaran.
Setidaknya ada 500-600 UKM yang bekerjasasama dengan Priangan Sari. Selain memiliki menu yang tahan lama, UKM-UKM tersebut juga meluncurkan varian menu yang unik, enak dan hygiene. Demi kemajuan bersama, Priangan Sari tak segan-segan memberikan saran dan kritik kepada mitra UKM untuk lebih meningkatkan kualitas menu secara optimal. “Selain menyediakan tempat, kami juga memberikan pinjaman modal berupa bahan yang dibutuhkan para mitra UKM, sesuai dengan jumlah menu yang akan dipasok ke Priangan Sari,” tambah Miftah.
Tak hanya menyediakan varian menu oleh-oleh yang beragam, tiap gerai Priangan Sari juga memiliki kapasitas ruangan cukup luas dengan lahan parkir yang memadai. Sehingga memudahkan konsumen saat bertandang dan memilih oleh-oleh sesuai selera.
Menu Unggulan.
Dari sekian menu yang diracik Priangan Sari, aneka keripik seperti Keripik Tempe, jadi menu yang diunggulkan. Cita rasanya yang lebih gurih, dengan tekstur renyah dan warna kekuningan yang memikat membuat Keripik Tempe menjadi primadona. Selian itu, Keripik Bayam juga jadi menu jagoan Priangan Sari, dan kerap dipilih oleh konsumen yang datang.
Demi menghadirkan varian menu seperti Keripik Tempe dan Keripik Bayam yang enak, Dewi dan Miftah senantiasa menggunakan bahan baku berkualitas. Mulai dari pemilihan tempe yang segar, tepung terigu, hingga minyak goreng. Dewi dan Miftah bahkan berani menyakinkan konsumen jika varian Keripik dan menu lain yang ditawarkan bebas bahan pengawet dan pewarna buatan. “Karena hanya mengandalkan bahan baku segar yang bebas pengawet, varian menu seperti Keripik Tempe hanya bertahan selama 3 minggu jika disimpan dalam wadah kedap udara di suhu ruang, sedangkan Bolu Talas hanya bertahan selama 4 hari. Karena itu kami nggak berani menyediakan ready stock yang terlalu banyak,” terang Miftah.
Minyak Goreng Fraiswell.
Agar biaya produksi bisa lebih ditekan, semua bahan baku yang digunakan Priangan Sari dipasok langsung dari distributor. Sehingga harga yang didapat lebih murah dibanding harga toko retail. Salah satu bahan tersebut adalah Minyak Goreng Fraiswell. Dipilihnya Minyak Goreng Fraiswell bukanlah tanpa alasan. Menurut Dewi dan Miftah, Minyak Goreng Fraiswell mampu menghasilkan gorengan seperti Keripik Tempe dan Keripik Bayam yang kerenyahannya lebih tahan lama.
Sebelum menggunakan Minyak Goreng Fraiswell, Dewi dan Miftah sempat menggunakan minyak goreng curah yang harganya lebih murah. Namun, setelah diamati, ternyata minyak goreng curah lebih cepat menghitam, sehingga harus lebih sering diganti. Setelah mencoba beberapa merek minyak goreng kemasan, akhirnya pilihan jatuh pada Minyak Goreng Fraiswell yang lebih ekonomis namun tetap berkualitas. “Digoreng dalam Minyak Goreng Fraiswell keripik jadi lebih gurih, renyah, harum dan warnanya lebih kekuningan alami,” tambah Miftah.
Lebih lanjut diungkapkan Dewi dan Miftah, Minyak Goreng Fraiswell juga lebih cepat panas, sehingga bahan yang digoreng lebih cepat matang dan penggunaan bahan bakar jadi lebih hemat. “Minyak Goreng Fraiswell juga tidak cepat menghitam meski dipanaskan berkali-kali, sehingga Gorengan tetap berwarna cerah,” ujar Miftah.
Untuk memenuhi kebutuhan operasional per bulan, Priangan Sari memasok Minyak Goreng Fraiswell hingga 200 dus, 1 dus berisi 18 liter. Saat musim liburan, kebutuhan Minyak Goreng Fraiswell bahkan meningkat hingga 80% dibanding hari biasa. “Karena sudah sekian tahun menggunakan Minyak Goreng Fraiswell, dan Gorengan yang dihasilkan juga berkualitas, rasanya kami tak ingin lagi pindah ke lain hati,” tutup Miftah.
Sumber Artikel : Tabloid Info Kuliner, Tanggal, 5 November 2014
Info lebih lanjut :
CV. Priangan Sari Sejahtera
Jl. Raya Puncak Km. 72 No. 53-54 Bogor- Jawa Barat
Telp. (0251) 8241043
Fraiswell Office
Focuk Building, Komp Mitras Sunter Blok B1 – B4
Sunter Jaya, Tanjung Priok
Jakarta Utara
Kala melongok gerai oleh-oleh berlabel Priangan Sari di Jl. Raya Puncak Km 72 No. 53-54, Bogor – Jawa Barat, yang cukup besar dan komplit, siapa yang menyangka jika bisnis ini mulanya hanya sebatas usaha rumah tangga. Diceritakan oleh Dewi dan Miftahuddin, selaku pemiliki gerai Priangan Sari, bisnis ini dimulai pada tahun 1992 di Kota Bandung – Jawa Barat. Ketika itu, Dewi yang baru saja melahirkan putri pertama mereka, memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai sekretaris. Karena tak terbiasa nganggur, Dewi pun mencoba menyalurkan hobinya membuat Keripik Singkong Balado. Untuk membantu perekonomian keluarga, Keriping Singkong Balado tersebut kemudian dipasarkan ke beberapa warung sekitar tempat tinggal Dewi dan Miftah.
Tak disangka, kerenyahan Keripik Singkong Balado racikan Dewi mendapat respon positif dari konsumen. Bahkan beberapa bulan kemudian Dewi dan Miftah harus memindahkan lokasi produksi guna mencari tempat yang lebih luas. Disamping itu, pasangan suami istri ini juga mulai menambah varian menu baru seperti Keripik Tempe dan Keripik Bayam. Terhitung sejak tahun 1992 hingga 1997, usaha aneka keripik milik Dewi dan Miftah telah berkembang dengan lima ruko berlabel Priangan Sari, yang tersebar di beberapa kawasan oleh-oleh Bandung – Jawa Barat.
Ekspansi Usaha.
Di tahun 1997, Dewi dan Miftah memutuskan untuk hijrah ke Ciawi, Bogor – Jawa Barat. Keputusan ini diambil karena melihat prospek yang lebih cemerlang. Di sini, Dewi dan Miftah membuka gerai mini market yang juga menjual beragam kebutuhan Sembilan bahan pokok (sembako). “Awalnya, ruko-ruko di Bandung masih kami kelola sendiri, tapi karena tidak terkontrol lagi maka saat ini di-handle oleh saudara-saudara kami, mulai dari produksi hingga pemasaran,” ujar Miftah.
Sayang, bisnis tersebut tak bertahan lama dan harus gulung tikar karena beberapa persoalan. Tak ingin larut dalam kegagalan, Dewi dan Miftah memidahkan lokasi penjualan ke kawasan, Jl. Raya Puncak Gadog Km 7. Dengan mengusung konsep sentra oleh-oleh, Dewi dan Miftah bukan hanya membuat beragam keripik untuk dijual kepada konsumen, tapi juga menerima pasokan oleh-oleh khas berbagai daerah di Indonesia. Saat ini Priangan Sari sudah memiliki lima cabang yang berada di Jl. Raya Ibogo Menteng No.52, Jl. Raya Kopo Puncak (Samping Wisma DPR), Jl. Raya Sukabumi No 26, Jl. Raya Soleh Iskandar (Depan Toserba Yogya), Ruko Plaza Niaga 2 No. 65 dan Sentul City No.85, Bogor- Jawa Barat.
Mitra UKM.
Hingga saat ini, Priangan Sari menyediakan ragam menu oleh-oleh yang bisa dipilih oleh para wisatawan yang melancong ke kawasan Puncak – Bogor, Jawa Barat. Sebut saja Keripik Tempe, Kripik Bayam, Kripik Bawang, Sale Pisang, Bolu Lapis Talas Bogor, Brownies Talas, Roll Talas, Sale Pisang Keju, Dodol Garut, Roti Unyil, Wajik Ci Lilin, Manisan Cianjur hingga aneka buah lokal.
Selain menyediakan menu yang dibuat sendiri di dapur produksi, Priang Sari juga menerima pasokan Usaha Kecil Menengah (UKM) dari berbagai daerah. Dengan kerja sama ini, Dewi dan Miftah berharap bisa menyediakan media penjualan bagi UKM yang terkendala modal dan pemasaran.
Setidaknya ada 500-600 UKM yang bekerjasasama dengan Priangan Sari. Selain memiliki menu yang tahan lama, UKM-UKM tersebut juga meluncurkan varian menu yang unik, enak dan hygiene. Demi kemajuan bersama, Priangan Sari tak segan-segan memberikan saran dan kritik kepada mitra UKM untuk lebih meningkatkan kualitas menu secara optimal. “Selain menyediakan tempat, kami juga memberikan pinjaman modal berupa bahan yang dibutuhkan para mitra UKM, sesuai dengan jumlah menu yang akan dipasok ke Priangan Sari,” tambah Miftah.
Tak hanya menyediakan varian menu oleh-oleh yang beragam, tiap gerai Priangan Sari juga memiliki kapasitas ruangan cukup luas dengan lahan parkir yang memadai. Sehingga memudahkan konsumen saat bertandang dan memilih oleh-oleh sesuai selera.
Menu Unggulan.
Dari sekian menu yang diracik Priangan Sari, aneka keripik seperti Keripik Tempe, jadi menu yang diunggulkan. Cita rasanya yang lebih gurih, dengan tekstur renyah dan warna kekuningan yang memikat membuat Keripik Tempe menjadi primadona. Selian itu, Keripik Bayam juga jadi menu jagoan Priangan Sari, dan kerap dipilih oleh konsumen yang datang.
Demi menghadirkan varian menu seperti Keripik Tempe dan Keripik Bayam yang enak, Dewi dan Miftah senantiasa menggunakan bahan baku berkualitas. Mulai dari pemilihan tempe yang segar, tepung terigu, hingga minyak goreng. Dewi dan Miftah bahkan berani menyakinkan konsumen jika varian Keripik dan menu lain yang ditawarkan bebas bahan pengawet dan pewarna buatan. “Karena hanya mengandalkan bahan baku segar yang bebas pengawet, varian menu seperti Keripik Tempe hanya bertahan selama 3 minggu jika disimpan dalam wadah kedap udara di suhu ruang, sedangkan Bolu Talas hanya bertahan selama 4 hari. Karena itu kami nggak berani menyediakan ready stock yang terlalu banyak,” terang Miftah.
Minyak Goreng Fraiswell.
Agar biaya produksi bisa lebih ditekan, semua bahan baku yang digunakan Priangan Sari dipasok langsung dari distributor. Sehingga harga yang didapat lebih murah dibanding harga toko retail. Salah satu bahan tersebut adalah Minyak Goreng Fraiswell. Dipilihnya Minyak Goreng Fraiswell bukanlah tanpa alasan. Menurut Dewi dan Miftah, Minyak Goreng Fraiswell mampu menghasilkan gorengan seperti Keripik Tempe dan Keripik Bayam yang kerenyahannya lebih tahan lama.
Sebelum menggunakan Minyak Goreng Fraiswell, Dewi dan Miftah sempat menggunakan minyak goreng curah yang harganya lebih murah. Namun, setelah diamati, ternyata minyak goreng curah lebih cepat menghitam, sehingga harus lebih sering diganti. Setelah mencoba beberapa merek minyak goreng kemasan, akhirnya pilihan jatuh pada Minyak Goreng Fraiswell yang lebih ekonomis namun tetap berkualitas. “Digoreng dalam Minyak Goreng Fraiswell keripik jadi lebih gurih, renyah, harum dan warnanya lebih kekuningan alami,” tambah Miftah.
Lebih lanjut diungkapkan Dewi dan Miftah, Minyak Goreng Fraiswell juga lebih cepat panas, sehingga bahan yang digoreng lebih cepat matang dan penggunaan bahan bakar jadi lebih hemat. “Minyak Goreng Fraiswell juga tidak cepat menghitam meski dipanaskan berkali-kali, sehingga Gorengan tetap berwarna cerah,” ujar Miftah.
Untuk memenuhi kebutuhan operasional per bulan, Priangan Sari memasok Minyak Goreng Fraiswell hingga 200 dus, 1 dus berisi 18 liter. Saat musim liburan, kebutuhan Minyak Goreng Fraiswell bahkan meningkat hingga 80% dibanding hari biasa. “Karena sudah sekian tahun menggunakan Minyak Goreng Fraiswell, dan Gorengan yang dihasilkan juga berkualitas, rasanya kami tak ingin lagi pindah ke lain hati,” tutup Miftah.
Sumber Artikel : Tabloid Info Kuliner, Tanggal, 5 November 2014
Info lebih lanjut :
CV. Priangan Sari Sejahtera
Jl. Raya Puncak Km. 72 No. 53-54 Bogor- Jawa Barat
Telp. (0251) 8241043
Fraiswell Office
Focuk Building, Komp Mitras Sunter Blok B1 – B4
Sunter Jaya, Tanjung Priok
Jakarta Utara
Related Pots
Related Pots
Kerajinan Kayu, Wayang Golek, hingga Keramik jadi Primadona
Related Pots
Tas, Pernak-Pernik Rumah, dan Camilan Tembus Pasar Ekspor
Related Pots
Related Pots
Konveksi Jeans, Bola, hingga Kerupuk Pisang Lagi Naik Daun
Meskipun tak seluas wilayah kabupaten di Jawa Barat lainnya, namun siapa sangka Kabupaten Majalengka kini menjelma menjadi kota yang berkembang dari segala aspek dan bidangnya khususnya dari sisi perekonomian. Berkembangnya kabupaten ini, selaras dengan perkembangan industri-industri rumahan yang kian diminati. Hal ini dikarenakan tingginya animo masyarakat Majalengka yang menumpahkan kreativitasnya kedalam dunia usaha. Terbukti dengan adanya beberapa Industri kecil milik pelaku usaha UKM yang sedang menjadi tren berkembang mulai dari konveksi, bola hingga makanan ringan.Konveksi Jeans. Fesyen adalah salah satu bidang usaha yang berkembang cukup pesat. Fakta inilah yang membuat banyak pelaku usaha beramai-ramai terjun ke bisnis konveksi, salah satunya konveksi jeans yang digemari masyarakat di Indonesia maupun Luar Negeri. Jeans sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Tren jeans selalu up to date mengikuti pasar dunia mulai dari celana, kemeja hingga jaket jeans variasi hoodle. Tak heran jika bisnis konveksi jeans ini kian diminati pasar, buktinya produk jeans kreasi UKM Majalangka banyak memasok pasar-pasar grosir seperti pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Salah satunya pusat konveksi jeans yang terkenal di Kabupaten Majalengka yakni kecamatan Cikijing. Pusat produksi jeans di kecamatan ini juga berpeluang menembus pasar mancanegara. Setidaknya terdapat sekitar 200 pelaku usaha konveksi jeans, salah satunya Alex Tarmizi yang menjadi produsen jeans sejak tahun 1990 an berlabel R34 Cotton. Ketekunannya dalam menggeluti bisnis konveksi jeans ini, membuat ia sukses menjadi supplier jeans di pasar grosir seperti Tanah Abang dan Cipulir Jakarta, Cirebon dan Bandung.Selain rajin mengikuti pameran di tingkat regional, untuk menarik minat pasar, Alex Tarmizi juga aktif dalam ajang pameran di tingkat nasional seperti Majalengka, Jakarta Bandung, Yogyakarta dan Bali. Alhasil produk kreasinya maikn banyak dibanjiri pesanan, apalagi saat menjelang Ramadhan tiba. Menurutnya tren jeans yang menjadi favorit saat ini adalah jenas chino dan denim pendek. Desain chino makin diminati lantaran modelnya yang simpel dan elegan.
Setiap bulan, Alex mampu memproduksi jeans sampai 800 lusin menggunakan bahan baku kain jeans dan benang yang diperoleh dari Bandung. Dalam memenuhi kebutuhan produksinya, Alex merekrut karyawan jahit dari Banjar dan Cicenang, Majalengka dengan upah perpotong Rp 5.000.
Produk jeans ini terbuat dari bahan kain sakura dan Jatex dengan desain beragam, mulai dari denim pendek, kargo, standar hingga yang terbari chino dengan harga yang ditawarkan berkisar dari Rp 40-62 ribu/pcs. Selain itu, Alex juga menerima pesanan jeans customized bagi pelanggan yang menginginkan desain sendiri. Sistem pembelian biasanya dengan tunai, namun bisa juga dengan membayar 50%. Sedangkan ongkos kirim ditanggung pembeli.
Industri Bola.
Selain konveksi jeans, majalangka juga merupakan produsen sepak bola yang cukup termasyhur. Bahkan salah satunya pabrik bola terbesar di Majalengka pernah dipercaya memproduksi bola pada gelaran Piala Dunia tahun 2002 lalu. Seiring perkembangan olahraga sepak bola yang semakin diminati para pecintanya, membuat peluang usaha ini pun semakin menjanjikan. Tak heran jika dikabupaten majalengka perkembangan usaha ini cukup pesat.
Seperti dijumpai dipusat produksi bola sepak yang berlokasi di Pesanggrahan Maja, kabupaten majalengka. Yudhistira Putra atau akrab disapa Yudhi, salah satu produsen bola sepak sejak tahun 2001 dengan mengusung brand BOMA (Bola Majalengka). Kesibukan sebagai pegawai penyuluh KB, tak menghalangi dalam menjalankan roda bisnis ini. Dalam memenuhi kebutuhan pasar, Yudhi dibantu sekitar 50 orang ibu rumah tangga yang diupah sebesar Rp 4.500/buah. Kini setidaknya Yudhi bisa menghasilkan sekitar 2000 buah bola per bulan.
Prospek usaha bola sepak saat ini sangat cerah, bahkan akhir-akhir ini permintaan cenderung meningkat. Dan, baru-baru ini ditengah kampanye partai politik, order pesanan semakin meningkat hingga 2-3 kali lipat. Permintaan datang dari partai-partai politik yang melakukan kampanye dengan menggunakan produk promosi berupa bola sepak. Namun peningkatan permintaan tersebut terkadang kurang diimbangi dengan ketersediaan bahan baku secara kontinyu, ditambah dengan jumlah mesin produksi yang minim, sehingga terkadang proses produksi menjadi tersendat. Dalam hal mengantisipasi hal ini, biasanya beberapa produsen bola sepak ada yang memesan bahan baku yang tinggal disablon dan dijahit.
Biasanya dalam membuat desain bola sepak, produsen lebih banyak mengikuti perkembangan pasar yang sedang ramai trennya. Selain itu juga menerima pemesanan bola customized. Agar mendapatkan produk bola sepak yang berkualitas, kebanyakan dari produsen menggunakan bahan baku pilihan seperti bahan starwing, bahan divisi, blader, solft, leader dan ada juga bahan imitasi yang disesuaikan dengan permintaan pasar. Bahan-bahan ini ada yang didatangkan dari daerah sekitar dan ada pula yang didatangkan dari surabaya. Bahan pendukung seperti cat, pentil, jaring dan benang juga banyak tersedia ditoko bahan bola diMajalengka.
Produksi bola sepak yang ditawarkan terdiri dari beberapa varian mulai ukuran 3, 4 dan 5 dengan harga yang terjangkau yakni Rp 48ribu. Penjualan bisa secara ecerann partai besar dan kecil dengan sistem pembayaran tunai untuk pesanan bola customized. Sementara untuk produk bola sepak non customized (desain dari pihak produsen sendiri), bisa membayar uang muka sebesar 50 persen dan sisa pembayaran dilunasi setelah barang siap dikirim. Biaya pengiriman seluruhnya dibebankan pada pihak pembeli dengan menambah harga sekitar Rp 1.500/pcs bola sepak.
Dalam memasarkan produknya, biasanya pelaku usaha banyak mengikuti event pameran yang diadakan oleh pihak koperasi setiap tahun baik diMajalengka maupun dikota-kota lain diPropinsi Jawa Barat. Pelaku usaha juga kerap memperoleh tawaran untuk mengikuti pameran dari pulau dewata bali. Tak heran jika para pelanggan bola sepak sudah datang dari berbagai daerah diseluruh Indonesia yang biasanya berasal dari kalangan toko-toko bola, seperti diJakarta, Bandung, Surabaya, dan lainnya.
Produk Makanan Ringan
Industri UKM lain dikabupaten Majalengka yang sangat berpeluang untuk dikembangkan yakni usaha makanan ringan. Seperti yang dilakukan oleh warga kecamatan Bantarujeg. Setidaknya ada sekitar 50 lebih pelaku usaha makanan ringan seperti kerupuk singkong, kerupuk jagung, rempeyek ikan, keripik bayam, keripik pisang, biji ketapang, akar kellapa, opak, pungpa, kalua jeruk dan sebagainya. Daerah-daerah yang lain merupakan pusat produksi makanan ringan seperti Rawa dan Kecamatan Majalengka.
Makanan ringan yang dikembangkan oleh pelaku UKM di Kabupaten Majalengka juga tak lepas dari kreasi-kreasi baru. Seperti kerupuk pisang kreasi Sri Ida Mulyawati. Kerupuk pisang menurut Sri Ida Mulyawati hanya ada didesa Babakansari kecamatan Bantarujeg Majalengka. Pemerintah daerah setempat juga berencana menjadikan camilan ini sebagai makanan dan oleh-oleh khas Majalengka. Meski terbilang produk baru, camilan kerupuk pisang sudah dibanjiri permintaan pasar.
Kerupuk pisang memiliki beberapa varian rasa seperti keju, keju pedas, keju manis pedas, ayam bawang, dan balado dengan pilihan level pedas. Camilan ini sangat menarik untuk dicoba dan layak dijadikan oleh-oleh khususnya jika anda berkunjung keBantarujeg, Majalengka. Dalam sehari Sri Ida mampu memproduksi sampai 10kg kerupuk pisang. Kapasitas produksi bisa meningkat lagi saat musim panen tiba. Dalam proses produksinya, Ida tidak merekrut karyawan melainkan masih ditangani keluarga sendiri. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kerupuk pisang sangat sederhana yakni pisang ambon, tepung tapioka, mentega dan garam. Sementara untuk bahan baku lain yakni pisang nangka, pisang galek, talas dan tepung terigu. Bahan baku pisang didapatkan dari petani di kecamatan Bantarujeg.
Makanan ringan yang diproduksi pelaku UKM tersebut ditawarkan dengan harga beragam, seperti kerupuk pisang Rp 8ribu per bungkus isi 100 gram, keripik pisang Rp 13ribu per bungkus isi 100 gram, kerupuk singkong Rp 5ribu per bungkus isi 100 gram, kerupuk jagung Rp 10ribu per bungkus isi 100 gram, rempeyek ikan Rp 15ribu per bungkus isi 100 gram, keripik bayam Rp 7ribu per bungkus isi 100 gram, biji ketapang Rp 12ribu per bungkus isi 100 gram, akar kelapa Rp 10ribu per bungkus isi 100 gram, kalua jeruk Rp 10ribu per bungkus isi 100 gram.
Sistem pembelian bagi para agen dengan membayar DP minimal 50 persen atau dibayar setelah produk diterima agen, dan untuk produk pesanan selain agen dibayar secara tunai dengan ongkos kirim menyesuaikan kesepakatan. (Ihya)
Sumber : Tabloid Peluang Usaha
Edisi : 15-Thn. IX.
Terbitan : Tanggal 09 - 22 Mei 2014
Related Pots
Usaha-usaha yang sedang menjadi tren di Kabupaten Demak berpeluang besar untuk lebih dikembangkan, apalagi dengan kreasi-kreasi baru yang terus dihadirkan. Hingga saat ini ada beberapa jenis usaha yang sedang tren diminati oleh banyak konsumen, tak hanya sebatas wilayah kabupaten Demak, namun sudah menjangkau seluruh daerah di Indonesia. Sebut saja kreasi kuliner olahan buah belimbing menjadi jus, sirup hingga selai, tas dari bahan resleting, hingga lampu aromaterapi dari limbah kaca dan limbah kertas. Apa Saja keistimewaannya..?
Kabupaten Demak merupakan wilayah kesultanan atau kerajaan Islam pertama di pulai Jawa yang meninggalkan ragam cerita sejarah dalamnya. Sehingga menarik minat banyak orang untuk mengunjungi kota Wali tersebut, baik sekedar untuk berziarah/napak tilas perjalanan dari para wali, ataupun ingin memperdalam studi sejarah di Kota Demak.
Kabupaten Demak merupakan wilayah kesultanan atau kerajaan Islam pertama di pulai Jawa yang meninggalkan ragam cerita sejarah dalamnya. Sehingga menarik minat banyak orang untuk mengunjungi kota Wali tersebut, baik sekedar untuk berziarah/napak tilas perjalanan dari para wali, ataupun ingin memperdalam studi sejarah di Kota Demak.
Related Pots
HomePeluang Daerah




