Salah satu jenis ikan hias yang kini sedang tren dibudidaya dan memiliki harga yang cukup baik, adalah Butterfly Fish atau ikan hias Kupu-Kupu. Ikan hias ini memiliki banyak genus dan spesies dengan tubuh yang beraneka warna. Bentuk tubuh umumnya pipih seperti cakram dengan ukuran yang tidak terlalu besar sekitar 6 inci (15 cm). Dengan tampilan mirip kupu-kupu yang terbang melayang di air dengan warna-warni menarik, membuat ikan ini sedap dipandang terutama di akuarium. Tak heran jika banyak orang yang gemar memeliharanya.

Ali Anwar, Ketua Koperasi Ikan Hias Candrabahaga, Kota Bekasi mengemukakan bahwa prospek ikan hias di Indonesia amat cerah, karena alam tropis Indonesia amat cocok untuk membudidaya aneka jenis ikan hias. Suhu dan pH-nya pun ideal untuk budidaya. Untuk ikan-ikan tertentu cocok dibudidaya di dataran rendah hingga sedang, yakni 24-29°C. Sedangkan di dataran sedang hingga tinggi sekitar 18-26°C. Derajat keasaman/pH-nya cocok, yakni 6-7,5 dan derajat kesadahan air/dH 1-8.

Ditambahkan Rachmat Syah Muchtar, pengamat perikanan dari Balai Perikanan DKI Jakarta, usaha ikan hias lebih menguntungkan mengingat biaya operasional ikan hias akan lebih rendah daripada ikan konsumsi. Dengan pola pemeliharaan dan pemberian makan yang hampir sama dengan ikan konsumsi, usaha ikan hias mampu memberikan pemasukan yang lebih besar karena harga ikan hias lebih mahal.

Butterfly Fish ada yang hidup di air laut dan ada yang hidup di air tawar. Jenis Butterfly Fish yang hidup di air asin biasanya memiliki habitat di laut, sedangkan jenis air tawar seperti African Butterfly Fish. Jenis Butterfly Fish yang hidup di air laut umumnya menyukai suhu air yang agak tinggi dengan tingkat keasinan mendekati kehidupan terumbu karang, yaitu 1.025 ppm. Anakan ikan ini akan lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan baru ketimbang ikan dewasa. Butterfly Fish membutuhkan kualitas air yang stabil dan pakan hidup seperti serangga kecil, alga, crustaceae dan polip koral.

Para pembudidaya Butterfly Fish bisa memasarkan mulai dari tingkat supplier sampai eksportir. Jalur atau cara yang efektif untuk mempromosikan ikan hias Butterfly Fish bisa menggunakan jaringan yang telah dibina sesama pembudidaya, pembudidaya dengansupplier, dan eksportir. Hubungan yang baik dalam jaringan, membuat produksi ikan hias Butterfly Fish akan stabil dan meningkat. Cara lain adalah melalui pameran ikan hias. Dan, seiring kian meningkatnya teknologi informasi, pemasaran juga bisa dilakukan melalui jaringan internet.

Agar produksi ikan hias Butterfly Fish tetap laris manis dan banyak peminatnya, maka pembudidaya harus memperhatikan keinginan pasar dalam negeri dan mancanegara, yang bermuara pada tren penghobi ikan hias dunia. Dengan demikian, pembudidaya perlu mengetahui tren bisnis dan hobi ikan hias. Menurut Ali Anwar, Butterfly Fish termasuk jenis ikan yang selalu diminati sepanjang tahun, seperti halnya ikan hias Blackghost, Neon, Corydoras, Furcata, Congo, Rainbow, Palmas.

Bagi pemula yang ingin terjun di bisnis budidaya ikan hias menurut Ali Anwar sebaiknya membudidayakan satu jenis ikan hias saja, supaya bisa fokus. Jika usaha telah berkembang, keuntungan yang diraih juga cukup besar seperti Agustinus Krezen Rahady,owner AK Rahady Fish yang meraih untung hingga 40%, dan dari penjualan berbagai jenis ikan hias, Butterfly Fish mampu menyumbang pemasukan sekitar 30%. Begitu pula Nicholas Kurniawan, Owner Venus Aquatics yang mendapat untung sekitar 30%.

Apakah Anda tertarik menekuni usaha budidaya ikan hias Butterfly Fish? Sebelum mulai membudidayakannya simak dahulu ulasan lengkapnya hanya di Tabloid Peluang Usaha Edisi 02 Tahun IX yang terbit 8 November 2013. Eka
Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar ternyata berimbas pada usaha tahu tempe yang sangat menggantungkan hidupnya pada kedelai impor. Faktanya, hal tersebut berdampak pada kenaikan harga kedelai impor. Namun fenomena ini membuka peluang bagi usaha budidaya kedelai lokal. Nah, upaya apa saja yang bisa dilakukan guna memberdayakan potensi kedelai lokal?

Didik Harnowo, Kepala Balitkabi (Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi), Malang mengatakan peluang budidaya kedelai (soybean, soya bean, Glycine max), menjadi semakin besar setelah harga kedelai impor lebih tinggi dibanding kedelai lokal. Dulu, kedelai impor bisa dijual dengan harga Rp 3.000 per kg. Saat ini harga kedelai impor dapat mencapai Rp 8 ribu/kg. Hal ini membuat peluang budidaya kedelai menjadi semakin menarik.

Kedelai lebih cocok dibudidayakan di lahan sawah pada musim kemarau. Kebutuhan lahan sawah sekitar 1,3 juta hektar bisa dipenuhi di Pantura Jawa. Tetapi kenyataan di lapang, sawah yang berpengairan teknis tidak dimanfaatkan untuk budidaya kedelai, karena petani lebih suka bertanam padi. Sejauh ini sawah tadah hujan memang paling tepat untuk budidaya kedelai, karena pengadaan air memerlukan biaya tinggi.

Dengan penanaman kedelai satu minggu sebelum padi dipanen, beberapa keuntungan bisa diperoleh. Pertama, petani tidak perlu mengeluarkan biaya pengolahan lahan. Kedua, petani juga tidak perlu mengeluarkan biaya pengairan. Bahkan biaya pemupukan bisa ditekan, sebab sisa-sisa pupuk yang ditebar pada waktu budidaya padi, masih bisa dimanfaatkan oleh kedelai.

Guna meningkatkan produktivitas kedelai bisa pula menggunakan teknik baru yang telah diteliti oleh Munif Ghulamahdi, MS, Peneliti Dept. Agronomi & Hortikultura IPB, yakni dengan metode budidaya jenuh air. Pada teknik ini tanaman kedelai diberi air terus- menerus sejak tanam sampai panen dengan kedalaman muka air 20 cm dari permukaan tanah sehingga lapisan di bawah perakaran jenuh air. Cara ini sangat sesuai jika diterapkan di lahan pasang surut karena intensitas cahaya tinggi dan air relatif cukup.

Beberapa manfaat yang didapat dari budidaya jenuh air, yaitu meningkatkan produktivitas sampai 4 kali produktivitas rata-rata nasional jika SOP (standar operasional prosedur) tepat, meningkatkan indeks pertanaman yang awalnya satu kali tanam menjadi dua kali atau tiga kali tanam, dan akhirnya meningkatkan pendapatan petani.

Bagi pemula, jika ingin terjun ke bisnis kedelai, disarankan memilih usaha budidaya kedelai. Karena dinilai lebih mudah dibudidayakan dibanding usaha pembenihan yang lebih membutuhkan ketelitian. Penjualannya juga lebih mudah karena usaha benih lebih membutuhkan banyak hal supaya mudah mendapat kepercayaan konsumen. Usaha pembenihan kedelai lebih membutuhkan ketelitian dibanding usaha budidaya kedelai hingga panen. Usaha pembenihan juga lebih membutuhkan tenaga kerja yang teliti, terutama saat proses sortir benih dan pengawasan hama penyakit di lapangan.

Selain itu agar lebih dipercaya konsumen, produsen benih sebaiknya memiliki surat sertifikasi dari Balai Pengawas dan Sertifikasi Benih (BPSB) Tanaman Pangan. Sehingga tak heran jika usaha budidaya kedelai lebih menguntungkan ketimbang pembenihan. Seperti yang telah dialami Margo Tani yang hanya mendapat untung 20-25%, sedangkan Gayam Rejo (pembudidaya) mendapat untung hingga 30%. Tertarik membudidayakan kedelai lokal? Baca ulasan lengkapnya di Tabloid Peluang Usaha Edisi 25 Tahun VIII yang terbit 13 September 2013. Eka, Tim Agri
Sayuran Jepang merupakan jenis sayur-sayuran yang awalnya dikonsumsi masyarakat Jepang sehari-hari dan kini sudah banyak disukai masyarakat Indonesia. Kebutuhan sayuran Jepang semakin meningkat dengan semakin maraknya resto yang menyajikan menu makanan Jepang. Apalagi masyarakat Jepang dan Korea di Indonesia juga ingin menikmati menu asli mereka.

Jenis sayuran Jepang sangat variatif, antara lain Bayam Jepang (Horenzo), Terong Jepang (Nasubi), Lobak Jepang (Daikon), Mizuna, Shiso Gobo, Wasabi Timun Jepang (Kyuri), Labu Jepang (Zuchini), Shungiku, Kabocha, Sawi Putih (Hakusai), Sawi Hijau (Komatsuna), Toge Jepang, Tomat Jepang, Bawang Daun (Negi) dan sebagainya.

Sayuran Jepang dan olahan sebenarnya berpotensi ekspor. Namun sayang belum banyak pelaku usaha yang bisa memenuhi permintaan secara rutin dalam jumlah banyak. Untuk itu, P4S Agrofarm bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Fakultas Pertanian beberapa universitas mulai gencar mengadakan seminar dan pelatihan agrobisnis. Salah satunya agrobisnis sayuran eksotik Jepang dan Korea. Para peserta yang serius di bidang ini biasanya dijadikan mitra.

Pelaku besar dalam usaha ini juga terbilang masih sangat sedikit. Sehingga memberi peluang bagi yang memiliki semangat juang agribisnis. Hal ini jelas terlihat dari pengalaman petani-petani sayuran eksotik Jepang yang kewalahan dalam memenuhi permintaan. Pasalnya baru terpenuhi sekitar 20% dari permintaan yang ada. Namun hal tersebut tetap membawa hikmah. Sebab menurut Santoso, dengan belum banyak pesaing, membuat produsen sayuran bisa menentukan harga jual sendiri, dan harganya pun tidak fluktuatif.

Menurut Tatan Tarjuna, pemilik CV Yan’s Fruit and Vegetable, harga sayuran eksotik Jepang bisa 3-5 kali lipat harga sayuran lokal. Ditambahkan Santoso, Ketua P4S Agrofarm Cianjur, kalaupun harganya ada yang naik turun, tetap saja masih lebih tinggi dari ongkos produksi.

Sayuran Jepang lebih banyak dipasarkan ke resto dan swalayan khas Jepang. atau bisa juga dilempar ke supermarket umum. Supaya bisa masuk ke resto atau swalayan tersebut, tentu saja harus ditawarkan secara langsung atau door to door. Guna memperluas pemasaran, sebaiknya pelaku usaha rajin mengikuti pameran (misalnya pameran Flona, pameran Flori dan Flora Nasional, pameran Agrinex dll).

Biaya produksi yang tidak terlalu tinggi, panen cepat, dan sasaran pasar kelas menengah atas membuat para pelaku usaha bisa meraih untung yang cukup besar. Seperti Okiagaru Farm dan CV Yan’s Fruit and Vegetable yang mampu meraih untung hingga 40%, dengan omset tiap bulannya mencapai ratusan juta rupiah. Tertarik menekuni bisnis sayuran Jepang? Simak terlebih dahulu ulasan lengkapnya di Tabloid Peluang Usaha Edisi 26 Tahun VIII yang terbit 11 Oktober 2013. Eka, Tim Agri
Budidaya ikan konsumsi maupun ikan hias sangat membutuhkan pakan. Menurut F Rahardi, pengamat agribisnis, komponen biaya pakan dalam praktik budidaya membutuhkan jatah 70% dari seluruh komponen biaya. Penggunaan pakan alami yang masih hidup untuk budidaya ikan, memiliki beberapa keuntungan. Yakni harganya lebih murah, tidak mudah busuk sehingga mengurangi pencemaran air, lebih mendekati kebutuhan biologis ikan karena berupa jasad hidup dan mempunyai kandungan gizi yang lebih lengkap jika dibandingkan dengan pakan buatan.

Cacing Sutera selain harganya murah, nilai gizinya tinggi, protein 48%, lemak 21%, glikogen 7%, lemak asam organik 1%, dan asam nukleat (nucleic acid) 1%. Satu ekor Kutu Air mengandung protein 68%, lemak 13,29%, abu 11%, dengan kadar air sebanyak 53,6%. Oleh karena itu merupakan pakan yang baik untuk benih ikan konsumsi dan ikan hias. Sedangkan dengan pemberian kutu air bisa mengeluarkan warna ikan hias menjadi lebih indah dan pertumbuhan yang cepat.

Budidaya Cacing Sutera dan Kutu Air tidaklah sulit, terutama Cacing Sutera dengan kemampuannya mampu beradaptasi pada kualitas air yang jelek. Usaha budidaya Cacing Sutera juga bisa dilakukan di lahan sempit dengan menggunakan wadah nampan/tray.

Apalagi jumlah pembudidaya Cacing Sutera, Kutu Air dan pakan alami ikan masih sedikit dan sebagian besar masih mengandalkan dari tangkapan alam, sehingga sangat tergantung musim dan tidak bisa diandalkan. Seperti halnya Cacing Sutera paling banyak terdapat di selokan yang bebas dari racun/limbah rumah tangga atau pabrik barang nonorganik, terdapat di selokan yang banyak mengandung protein. Misalnya selokan yang di atasnya terdapat peternakan ayam, pemotongan ayam atau pabrik tahu.

Biasanya harga akan naik jika memasuki waktu musim penghujan tiba. Hal ini karena pada musim penghujan para pencari Cacing Sutera tidak berani turun ke sungai akibat aliran air yang sangat deras. Selain itu, biasanya setelah hujan turun koloni Cacing Sutera akan mudah hilang karena terbawa arus air dan cenderung lebih sulit untuk ditemukan lagi. Akibatnya Cacing Sutera akan sulit didapat dan ditemukan pada musim penghujan serta baru akan mudah diperoleh kembali jika mulai memasuki musim kemarau. Berapa pun harganya, pasti Cacing Sutera tetap terserap dan diterima pasar.

Sebagai pengepul (supplier) Masturo mengaku baru bisa memenuhi 50% permintaan. Bukan hanya itu, permintaan yang baru disanggupi paling jauh terbatas hanya sampai daerah Jawa Barat. Harga Cacing Sutera cukup beragam, mulai dari Rp 5.000 per liter sampai 20.000 per liter. Perbedaan harga tersebut biasanya tergantung kontinuitas suplai Cacing Sutera. Supplier yang lebih kontinu memasok akan mematok harga jual yang lebih tinggi, dibanding penyedia Cacing Sutera yang tidak kontinu.

Biaya untuk produksi Cacing Sutera dan Kutu Air terbilang rendah. Seperti Yusuf Arifin, pembudidaya Cacing Sutera asal Yogyakarta yang meraih untung hingga 90% dan Tedi Harianto Hamiprodjo, pembudidaya Kutu Air di Jakarta Barat yang mendapat untung hingga 40%. Tertarik mengikuti jejak mereka menjadi pengusaha pakan ikan alami? Simak dulu ulasannya hanya di Tabloid Peluang Usaha Edisi 04 Tahun IX yang terbit 8 Desember 2013. Eka, Tim Agri
Di antara sekian jenis buah berry (Strawberry, Blackberry, Blueberry, Raspberry), buah Strawberry masih menduduki posisi nomor satu dalam permintaan penjualan. Selanjutnya Blackberry diikuti Blueberry dan Raspberry. Buah-buah berry yang tergolong dalam buah eksotik tersebut, selain memiliki bentuk yang cantik dan enak rasanya, juga bisa dimanfaatkan menjadi beragam olahan makanan dan minuman. Kandungan dan manfaatnya yang luar biasa bagus membuat buah ini menduduki posisi buah kelas atas yang lebih banyak dikonsumsi masyarakat kelas atas juga.

Karena kaya akan vitamin C, buah ini bermanfaat bagi kesehatan manusia, yakni meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu proses penyerapan zat besi dari makanan, sehingga bermanfaat mengurangi risiko penyakit anemia. Mengandung asam elegat yang bisa mencegah pertumbuhan sel kanker. Kandungan seratnya sangat bermanfaat untuk diet dan proses pencernaan makanan. Juga mengandung tanin yang bisa membantu mempercepat proses penyembuhan luka pada kulit. Buah ini juga bisa mengatasi gangguan pada mata karena mengandung lutein. Dan yang tidak kalah penting, kandungan folat (Vitamin B9) memainkan peranan penting dalam pembelahan dan pertumbuhan sel sehat.

Menurut Hans, owner Hans Berry selaku supplier buah berry di Bandung (www.agrobuah.blogspot.com dan www.hans-berry.blogspot.com), harga buah berry ini tak pernah turun, justru terus mengalami kenaikan karena termasuk buah eksotik. Tidak seperti komoditi pertanian yang lain, yang mana ketika jumlahnya “membanjiri” pasar, harganya akan anjlok. Pada musim hujan, jumlah pasokan buah Berry berkurang hingga 50% di tengah banyaknya permintaan, maka harganya terus melonjak. Dan pada musim kemarau, kualitas buah semakin bagus sehingga harganya tetap tinggi.

Buah berry lain baru dibudidaya di Pulau Jawa, seperti Jawa Barat (Lembang, Cianjur), Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga peluang budidayanya masih sangat terbuka lebar.Saat inipasar terbesar pemasaran buah berry di Pulau Jawa adalah daerah Jakarta, sedangkan di luar Pulau Jawa, pasar terbesar yakni di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Seperti Hans saat ini telah memasarkan buah berry ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Jambi, Medan, Makassar, Samarinda dan Pontianak.

Bagi pemula yang ingin terjun langsung membudidaya buah berry sebaiknya memahami betul karakter tanaman dan memiliki link pemasaran. Anda bisa memulainya dengan terlebih dulu menyewa lahan untuk budidaya di area yang bersuhu rendah (ketinggian sekitar 1.000 mdpl). Atau jika Anda tidak ingin menyewa lahan, melainkan menggunakan lahan sendiri dan terbatas, Anda bisa memilih untuk usaha pembibitan tanaman. Sebab usaha pembibitan tidak memerlukan lahan yang luas alias bisa di lahan sempit sekalipun.

Jika dibandingkan antara usaha budidaya buah dengan pembibitan buah berry, maka usaha pembibitan memberikan keuntungan lebih besar. Sebab memiliki kelebihan yakni tidak memerlukan lahan luas, biaya produksi dan tenaga kerja pun sangat sedikit. Seperti yang telah dialami Parta Suhanda, pemilik Angel Nursery yang meraih untung 65% dari usaha pembibitan tanaman buah berry, sedangkan Supriatin Budiman, pemilik Vin’s Berry memperoleh untung sekitar 30% dari usaha budidaya buah Blackberry siap panen. Tertarik untuk menekuni usaha budidaya buah berry ini? Simak dulu ulasan lengkapnya hanya di Tabloid Peluang Usaha Edisi 05 Tahun IX yang terbit 20 Desember 2013. Eka
Yuli Retnani, pakar pakan ruminansia IPB mengatakan, produsen pakan di Indonesia terbesar saat ini justru di bidang unggas yang mencapai 83%. Sedangkan pemain di usaha industri ruminansia baru mencapai 6%. Hal ini membuat pangsa pasar pakan ruminansia masih cukup besar.

Persaingan di bidang industri pakan ruminansia juga sama sekali belum ketat. Yuli menuturkan bahwa selama ini yang terjadi adalah sangat sedikit pemain pakan ruminansia yang benar-benar memproduksi sendiri produk pakannya. Kebanyakan perusahaan pakan ruminansia hanya menumpang produksi pada perusahaan/produsen pakan unggas.

Salah satu bentuk inovasi pakan yang baru digunakan oleh beberapa peternak yakni berupa silase. Silase adalah pakan hijauan bermutu tinggi yang difermentasi. Misalnya terbuat dari campuran singkong dan daun jagung yang dipotong-potong 5 cm dan difermentasi. Hasilnya produk pakan ini akan awet berbulan-bulan, pH-nya telah asam, yakni bernilai 4, kandungan bakteri asam laktatnya tinggi, proteinnya meningkat dan aromanya harum seperti tape. Beberapa bahan baku alam yang bisa untuk dijadikan silase, antara lain rumput, sorgum, jagung, biji-bijian kecil, tanaman tebu, pucuk tebu, tongkol gandum, tongkol jagung, batang nanas, jerami padi dll.

Ransum adalah pakan komplit yang dikonsumsi hewan ternak selama 24 jam. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun ransum, yakni menentukan bahan pakan apa saja yang akan digunakan, mengetahui kandungan nutrient masing-masing bahan pakan, mencari data kebutuhan standar ternak dan mengetahui harga bahan pakan per kilogram. Jadi di dalam ransum sudah memenuhi kelengkapan zat-zat yang telah disebutkan sebelumnya.

Bahan penyusun pakan yang wajib ada agar bisa bersaing dengan pakan pabrikan besar, yakni protein kasar, TDN (total digestible nutrient), vitamin, serat kasar, dan mineral yang berimbang. Tidak seperti pakan unggas yang membutuhkan kadar protein cukup tinggi, yakni sampai di atas 25%, kadar protein untuk pakan ternak ruminansia hanya sekitar 14-18%. Menurut Yuli Retnani, bagi calon produsen pakan ternak yang ingin membuat pakan bisa membuat formulasi berdasar beberapa patokan, yakni NRC (National Research Council), SNI atau penelitian akademik.

Agar pakan yang diproduksi mudah diterima pasar sebaiknya pakan tersebut telah melalui proses uji lab, murah, mudah didapat dan terlihat dampak atau manfaatnya pada hewan ternak ruminansia. Nahrowi Ramli, Sekjen AINI (Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia) mengatakan dengan pengujian di lab tentu memberikan nilai lebih pada produk yang dijual karena telah memiliki kekuatan penjualan dari keakuratan data. Cara ini seperti yang dilakukan Berkah Andini Feed (produsen pakan sapi dan kambing di Semarang) dalam memasarkan produknya.

Tak hanya itu, demi kelancaran pemasaran, pengusaha pakan harus pintar melihat peluang usaha. Misalnya dengan memosisikan dirinya berada di lingkungan kelompok ternak. Karena kelompok ternak itulah yang nantinya bisa menjadi pelanggan awal dan terus-menerus membutuhkan pasokan pakan tersebut.

Omset yang bisa didapat produsen cukup fantastis sebab permintaan yang datang terus meningkat dan tak pernah surut. Dari pendapatan yang besar inilah, produsen tetap bisa memperbesar usahanya. Seperti Berkah Andini Feed yang memproduksi pakan ruminansia dalam bentuk mash dengan omset sebulan mencapai lebih dari Rp 200 juta dan Syaiful Anwar yang memproduksi pakan ruminansia dalam bentuk pelet dengan omset hingga Rp 500 juta per bulan.

Anda tertarik untuk menekuni usaha produksi pakan ruminansia ini? Sebelum memutuskan ada baiknya untuk menyimak terlebih dahulu liputan lengkap kami. Baca Tabloid Peluang Usaha Edisi 06 Tahun IX yang terbit 3 Januari 2014. Eka
Designed by vnBloggertheme.com | Copyright © 2013 Tabloid Wirausaha Kreatif